RSS

Pandu Punya Perkara

Hahahahahahahaha….
Ketawa dulu deh,agar terlihat bahagia,
Padahal sudah dari dulu,
Pagi pagi cerita soal perkara cinta?,rasanya
masih terlalu subuh..
Pagi pagi alangkah nikmatnya jika mampu
menikmati peninggalan penjajah belanda,dalam
bentuk kebiasaan,
Kebiasaan mengoles mentega diatas
roti,ahhhh,terlalu mudah sekali,
Cinta dan proses mengoles mentega diatas
roti,punya banyak kesamaan,butuh taste,butuh
jiwa jiwa yang tidak lapar,agar apa? Agar supaya
mentega dioles secara merata,tidak
serampangan,dengan tujuan rasa akan tersebar di
segala penjuru,tidak di satu titik,dan titik lain tak
ada rasanya…
Cinta pun seperti itu,perlu kesabaran,penuh
taste,perlu jiwa jiwa yang tak “lapar” dalam
melakukan proses mengoles kasih sayang ke
media dalam bentuk hati,
Kita tak bisa memilih rasa roti tawar karena
semua pasti rasanya tawar,begitu pun hati,tugas
kita..mengolesinya dengan kasih sayang sebagai
menteganya,perhatian sebagai mesisnya,loh
kenapa perhatian seperti mesis? Mesis kan
rasanya ada yg pait ada yg manis..nah kira kira
aja seperti itu,terkadang jika tak ada mesis bisa
juga menaburkan gula..sebagai saling
percaya,sebab gula itu manis,dan sebab
kepercayaan pun awalnya manis..entah
pelaksanaannya…hahahaha…
Kadangpun bisa menggunakan selai yang ber
aneka rasa,sebagai perasaannya…kadang
perasaan kan ber aneka rasa macam selai
gitu..hahaha…
Nah jika sudah selesai mengoles,menabur,atau
sekedar menambah selai,sekarang saatnya untuk
dimakan,dimakan untuk mengganjal lapar,dalam
hal ini lapar perhatian,apapun yang timbul di
dalam rongga mulut dan lidah..sebaiknya sudah
di ketahui,karena kita yang melakukannya..
Sama seperti cinta,ketika proses
mengunyah,dalam hal ini perjalanan cinta menjadi
fokus, kita harusnya tau,ketika apa yg di oles
atau di taburi,kira kira itu rasanya perjalanan
jatuh cinta,
Endingnya pun pasti putus,putus jadi mantan dan
saling menghina,atau putus ke jenjang
pernikahan,
Seperti roti,bisa berakhir ke toilet vua lubang
anus,atau berakhir menjadi energi untuk
melangkah ke hal yg lebih lagi…
Itulah sedikit kengawuran saya dalam
mencocok2an makanan dan cinta,
Semoga kamu bisa mengerti,
Mengerti kalau ini masih pagi,dan harusnya
maklum..
Jika saya masih ngantuk dan bisa saja sedikit
ngelantur…
Akhir kata… Saya ya saya..jika kamu cinta saya…
maka saya cinta kamu,dan bisa saja cinta orang
lain…
Wasalam :)

Seperti Jatuh Cinta

Oke mungkin ini gak sesuai judul,
tapi tak apalah,biar terkesan keren dan terkesan orang mau baca…
Baru saja saya mulai rajin membuka google
dan mencari artikel tentang bagaimana cara membuat tahu,kok tahu sih?
Padahal saya baru saja terkena sengatan cinta
iya cinta dari lebah…tepat di pinggang,
harusnya saya kan mencari artikel tentang pertolongan pertama jika tersengat lebah,
kok malah artikel membuat tahu? Namanya juga orang panik,
Oke ke intinya saja daripada kalian lama lama malas membaca nya 
dan malah gak tau kejadian sebenarnya,
Sore ini saya bertugas mengepel halaman,tiba tiba lagi asik ngepel,
datanglah se ekor lebah,tanpa mengucapkan salam,tiba tiba maen sengat pinggang saya,
utungnya saya pakai baju,kalau pakai nasi dan ayam bakar,jadilah saya makan,
Setelah di sengat saya langsung memastikan jarum lebahnya terlepas dari diri saya yg kece ini,
Setelah itu mendadak mencari artikel tentang pertolongan pertamanya,eh disuruh pakai batu es,
saya cek ke kulkas batu es tak ada,adanya segelas sirup marjan cocopandan yang membeku,
langsung saya pakai untuk menekan luka itu,agar mengurangi nyeri,
Sudahlah,singkat cerita pinggang saya masih sakit,
namun berutungnya saya bisa move on dan bangkit,
meneruskan pekerjaan rumah saya,yaitu ngepel,
-Diketik sesaat di sengat dan di obati,
dan masih terasa sakit,
berharap sakit itu segera berlalu dan kamu cinta aku

Kakek Tua dan Bersahaja Berdagang Asongan

Apa yang anda rasakan pertama kali melihat foto ini? Pernahkah Anda membayangkan apa yang anda lihat di foto ini adalah ayah anda? Mungkin kakek anda? Entahlah, siapapun dia, hanya ada satu jawaban untuk menggambarkan kehidupan seorang bapak yang berprofesi sebagai pedagang asongan di usianya yang sudah lanjut ini, memprihatinkan. Dengan jalannya yang sudah tergopoh - gopoh, hampir jatuh karena keseimbangan tubuhnya tidak kuat menahan tipisnya tulang belulang di telapak kaki sebagai penyangga beban tubuhnya. Menjinjing plastik tipis berisikan tisu untuk menyeka keringat yang dijual dengan harga Rp. 1000.- Di tangan lainnya tergenggam beberapa buah kipas angin dengan harga yang sama. Menyusuri satu gerbong ke gerbong lainnya. Dari satu kereta ke kereta lainnya.
Untuk berdiri dari lipatan duduknya saja asongan yang seharusnya menikmati masa tuanya ini dengan menimang cucu sudah tidak mampu menahan beban di tubuhnya. Sesekali tatapan matanya menatap kosong ke kejauhan. Semangatnya merupakan contoh positif untuk generasi muda penerus bangsa yang telah terkurung oleh gaya hidup hedonisme. Siapa yang tahu dan bisa menebak usia bapak ini? 70 tahunkah? atau 75 tahun? Mungkin sampai 80 tahun? Entahlah, karena untuk berkomunikasi saja sangat sulit. Panggil saja Abah, sebagai penghormatan kita kepada beliau. Beliau menjadi salah satu bukti kegagalan pemerintah dalam mensejahterakan perekonomian masyarakatnya. Justru, Golongan Tertentu dan bangsa asing lainnya yang menikmati kemerdekaan di negeri ini.
Sejak Ignasius Jonan menjadi Direktur Utama (Dirut) PT. Kereta Api Indonesia (Persero), semua kebijakannya terindikasi bermuka dua. Di satu sisi menawarkan obat, di sisi yang lain terdapat racun mematikan. Sikap kepala batu dan enggan menerima masukan dari pedagang asongan merupakan arogansinya sebagai penguasa kereta api. Padahal, masukan yang ditawarkan pedagang asongan bukanlah solusi biasa, melainkan solusi yang solutif. Melalui artikel "Seandainya Aku Direktur Utama (Dirut) PT. Kereta Api Indonesia (Persero)" asongan telah memberikan kontribusi nyata untuk mengatasi permasalahan klasik tersebut. Bercerminlah Jonan, jika Mr. jonan benar - benar sebagai abdi negara yang memiliki jiwa nasionalisme dan menghormati pribumi asli bangsa Indonesia yang sejak jaman dahulu melalui nenek moyang kami bersama - sama membangun sarana dan prasarana infrastruktur perkeretaapian di Indonesia, mulai dari pembangunan jalan rel kereta api, terowongan, stasiun, sampai pegawainya yang saat itu belum mengenal seragam dan gaji yang layak seperti saat ini. Sebagai anak cucunya, biarkanlah kami untuk mencari nafakah di dalam kereta api, kereta api kelas ekonomi. Sementara itu, untuk pemerintah yang telah diberikan kepercayaan oleh masyarakat, lihatlah potret penderitaan kami, jangan menjadi pengkhianat bangsa yang menari diatas penderitaan rakyatnya. (*) PAKKA JABAR